What's New:

Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts
Hari ini entah mengapa rasanya saya mendadak muales banget buat pergi-pergi. Tapi, da saya udah ada janji jauh-jauh hari. Jadinya teh saya pergi juga. Ehh, pas pergi nggak biasanya saya ditilang sama polisi.

Sesampainya di TKP a.k.a di bioskop BTC XXI hal yang pertama-tama saya lakukan adalah SMS teman. Saya kira yang bersangkutan sudah di tempat karena waktunya memang agak mepet. Jam 16.24, sedangkan film dimulai jam 16.35.

Karena tidak dibalas, akhirnya saya gregetan buat nelpon. Sempet nelpon yang bersangkutan, tapi suaranya nggak begitu jelas. Dan ketika saya hendak mencari film yang ingin ditonton ternyata filmnya udah nggak ada.

Tak lama kemudian, teman SMS dengan beribu kata maaf katanya nggak bisa. Ok. Untung dia SMS, karena saya sempat salah dengar pesenin tiketnya. Karena sudah di TKP dan kalau pulang lagi… Ah, saya lelah… Akhirnya saya liat deh yang available.

Sumber: Youtube

The Little Prince.

Yak! Dulu saya pernah liat trailer-nya dan pengen nonton. Pernah nunjukin sama Mama dan sama sekali nggak tertarik, alasannya simpel: gak lucu. Iya deh iya, da saya mah apa atuh tontonan aja isinya seriusan mulu.


Nggak disangka akhirnya nonton juga padahal di luar rencana.

Dulu juga kalau nggak salah pernah baca bukunya, cuma nggak begitu ngeh karena isinya banyak kiasan dan perumpamaan. Setelah melihat film ini saya pikir film ini adalah sekuel dari buku The Little Prince itu sendiri. Bagi yang belum membaca bukunya masih tetap bisa menikmati film ini kok.
What essential is always invisible to the eye.
Bercerita tentang anak perempuan dengan tuntutan hidup yang berat. Sebuah cerminan anak-anak zaman sekarang yang tuntutan hidupnya memang berat-berat euy. Nah, anak gadis ini dibesarkan oleh Ibunya (yang diduga seorang single parent).

Awalnya anak ini persis pisan kayak Ibunya. Kayak kloning gitu. Tindak tanduk anak ini sesuai dengan Ibunya dan pikirannya sepertinya memang sudah diprogram sesuai dengan keinginan dan harapan Ibunya. 

Dan udah diatur. 

Dari lahir sampai seumur hidup, literary.

Kehidupan si anak berubah semenjak ia bertemu dengan tetangga sebelah yang eksotis eh eksentrik. Yang awal ketemu aja udah bikin bad impression. Well, gimana nggak? Ngancurin rumah gituh.

Setelah dilaporin ke polisi dan “berdamai” dengan sekeler recehan, suatu hari orang nyentrik ini ngirim kapal-kapalan kertas ke ruangan si anak yang sedang belajar. 

Awalnya si anak nggak minat, sebel banget dan ngebuang kertas itu ke tong sampah, tapi akhirnya dilirik juga setelah ngebuka keler recehan yang bukan sekedar keler.  

Dan disitulah cerita dimulai. Bermula dari rasa ingin tahu, dimulailah kisah persahabatan nggak biasa yang terjalin lewat cerita. Sebuah kisah dengan harga yang harus dibayar dan suatu pertemuan yang mengubah hidup si anak.

Daripada spoiler mending nonton sendiri huehuehue
I’m not so sure I want to grow up anymore…
Meskipun film ini memang ditujukan untuk anak-anak tapi isi pesannya begitu dalam. Saya sendiri lebih prefer film anak-anak atau cerita anak-anak karena dibalik kesederhanaan yang ditampilkan, pesannya sangat kuat.

Banyak lho anak-anak sekarang yang nggak sempet menikmati masa kecilnya karena tuntutan zaman. Orang tua mereka sebenarnya nggak jahat, cuma mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Seandainya mereka tau kalau realita itu tidak seindah dunia dongeng dan itu adalah alasan kenapa.
Growing up is not the problem, forgetting is…
Rasanya beruntung untuk anak-anak generasi 90-an yang masih bisa ngerasain asiknya main bareng sama temen. Mulai dari petak umpet, main bola, main kelereng dan permainan lainnya yang ada kontak fisik. Kalau sekarang mah, serba gadget (meski nggak semua sih).

Bukan berarti jelek sih, karena tiap zaman pasti ada plus sama minusnya. Kalau dulu mah main-main teh asa aman, kalau sekarang entah malah banyak para pedo merajalela, jadi sieun kalau punya anak suatu saat nanti.

Entah, mungkin hari ini memang bukan kebetulan saya dipertemukan dengan The Little Prince. Yang jelas saya bersyukur karena bisa nonton The Little Prince.

Apa yang saya dapatkan dari film:
  • Persepsi anak kecil dan orang dewasa itu jelas beda banget. Bagi anak kecil mungkin pemikiran orang dewasa itu terkesan aneh, begitu pula bagi orang dewasa yang melihat pemikiran anak kecil.
  • Lalu, apa yang baik menurut orang dewasa belum tentu baik bagi anak. Sebenarnya bisa dan sangat-sangat mungkin, hanya saja lebih ke penyampaiannya saja. Dulu, seandainya saya ngeh pesan orang tua mungkin bakal lain cerita hidup saya. Jiah, curcol.
  • Semua orang dewasa dulunya adalah anak kecil, tapi nggak semua bisa mengingat masa kecil mereka. Ketika kita masih kecil, kadang daun bisa jadi beragam hal. Ketika dewasa, daun ya daun. Tuntutan hidup dan pengalaman membuat mereka berubah.

Kalau menurut saya film ini ditujukan untuk:
  • Buat yang seneng The Little Prince. Lha, iya khan? Film ini diadaptasi dari bukunya. Ya, bisi we penasaran buat comparison, buat liat apa yang beda dan motif-motif lain.
  • Buat yang seneng hiburan sambil belajar, buat yang seneng cari makna terselubung di balik film. Ada banyak kiasan, perumpamaan yang diperoleh di film ini untuk kembali direnungkan dan mengoreksi diri.
  • Seneng kisah persahabatan yang nggak biasa.
  • Dan buat yang seneng film animasi.

Pantasnya ditonton dengan rating: Bimbingan Orang tua. Meskipun ini film anak-anak dan terkesan semua umur tapi ada tingkah laku yang kurang sesuai dan tidak patut dicontoh. Dicontohkan sih apa yang nggak boleh dicontoh.

Dan untuk apa yang saya pelajari hari ini adalah:
  • Kadang apa yang dicari ketika tidak dicari suka ketemu sendiri.
  • Ada berkah disetiap musibah. Ada hal baik dibalik hal yang dianggap buruk. Semua kembali pada persepsi. Saya sih bersyukur, karena nggak jadi, saya akhirnya bisa nonton The Little Prince yang saya ingin tonton sejak kapan.

P.S:

Postingan ini masuk exceptional case, karena:
1. Saya udah nulis buat latihan. Yay.
2. Saya kangen nulis bahasa Indonesia (ah, alesan aja. Bilang we susah nulisnya wkwk). Yee, nulis pakai bahasa sehari-hari lebih leluasa ekspresinya tau. Saia khan belum mastah. Wahaha, emang dasar jiwa rebel.
Ketika ditanya tentang film yang menginspirasi.

Hmm, dua film ini muncul dalam benak pikiran saya.

Sumber: Wikipedia
Yang pertama adalah A Beautiful Mind.

Film yang diangkat dari kisah nyata. Bercerita tentang kehidupan seorang ahli matematika jenius dan pemenang nobel.

Apa yang membuat film ini menarik?

Sumber: A Beautiful Mind
Dari film ini saya belajar bahwa memiliki keterbatasan pun tidak akan menjadi halangan jika kita memiliki tekad yang kuat. Tentu, tidak ada yang mengatakan bahwa hal tersebut akan dicapai dengan mudah.

Tapi, it worth the effort.

Sumber: A Beautiful Mind
Hal ini terlihat dari bagaimana perjuangan John Nash dalam melawan penyakitnya. Saat pertama kali ia mencoba, ia berkali-kali gagal, namun ia terus berusaha sampai pada akhirnya hasil perjuangannyalah yang berbicara.    
Sumber: Wikipedia
Yang kedua adalah The Soloist.

Film yang juga diangkat dari kisah nyata.

Bercerita tentang persahabatan seorang kolumnis di sebuah surat kabar dengan seorang musisi gelandangan. Pertemuan mereka bermula ketika Mr. Lopez mencari bahan berita dan menemukan Mr. Ayers yang sedang bermain musik.  

Sumber: The Soloist
Melihat sosok Mr. Lopez sebagai kolumnis, film ini mengajarkan saya akan betapa kuatnya pengaruh tulisan yang kita buat. Jika dilakukan dengan tepat, tulisan kita bisa memberi perubahan yang berarti bagi orang lain dan juga orang banyak. Ini kembali mengingatkan saya akan betapa luar biasanya kekuatan kata-kata.  

Sumber: The Soloist
Melihat sosok Mr. Ayers. Film ini mengajarkan saya bahwa setiap orang yang kita temui itu memiliki masa lalu sebelum mereka menjadi sosok yang kita kenal seperti sekarang ini. Setiap orang punya cerita. Saya jadi teringat dengan kata-kata ini:

“Berbaik hatilah kepada setiap orang yang kita temui, karena masing-masing dari mereka sedang berjuang menghadapi pertarungan yang kita sendiri tidak tahu.”

Bahkan orang yang jenius pun memiliki kekurangan.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Eh, tunggu. Saya belum beres karena masih ada satu lagi.

Kemudian, ada film Malaikat Kecil yang saya tonton kamis kemarin. Film yang terinspirasi dari kisah nyata dan isi filmnya kental dengan budaya Indonesia.

Sumber: Youtube
Bercerita tentang perjuangan seorang Ayah berkebutuhan khusus yang ingin membahagiakan keluarganya ditengah keterbatasan yang ada.  

Dalam film ini ada beberapa kutipan yang saya suka:

“Orang baik itu harus ditiru. Kalau kamu selalu berbuat baik, orang nggak akan bertanya asal kamu dari mana, sekolah kamu apa, agamamu apa. Mbah Uti yang bilang gitu.”

Sumber: Youtube
“Apa nggak berat janjimu sama anak-anak?”
“Berat, ringan ditanggung berdua. Anak-anak nomor 1”

Sumber: Youtube
 “Jadi wong lanang harus kuat le, harus hebat, jangan malas, bekerja keras. Apapun akan kamu dapatkan kalo kamu kerja keras dan ingat ojolali berdoa itu juga hal yang utama.”

“Kamu harus ikhlas, kalau ikhlas nanti akan diberi pahala.”

Yang membuat saya terharu. Di tengah keterbatasan yang ia miliki. Di tengah musibah yang ia alami. Ia tetap mengingat janjinya kepada anak-anaknya. Saya teringat ketika Budi berjanji membelikan hadiah untuk anak-anaknya jika puasa mereka penuh. Budi akhirnya membelikan Ratih baju pink, jilbab bunga-bunga dan baju gambar ikan untuk Ian.

Bagi saya menonton film itu tidak hanya sekedar hiburan, namun juga bisa jadi media pembelajaran. Dari film-film tersebut saya belajar untuk lebih mensyukuri keadaan tanpa perlu mengalami kejadian yang mereka alami.

Ketika kita masih memiliki badan dan pikiran yang sehat, bukankah itu sudah menjadi anugrah tersendiri? Bayangkan jika kita berada dalam posisi mereka. Terutama ketika kita sama sekali tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Betapa beratnya hidup yang mereka alami.

Ketika kita masih memiliki orang-orang yang peduli dengan diri kita, apakah itu tidak lebih dari cukup?

Ketika merasa susah, saya kembali diingatkan bahwa masih ada yang lebih susah dan hebatnya mampu bertahan dengan kondisi mereka.

Terima kasih sudah berkunjung dan meluangkan waktu untuk membaca.






Tahun: 2012
Bahasa: Prancis
Genre: Drama
Rating: Bimbingan Orang tua
Durasi: 1 Jam 20 Menit

Sutradara: Stéphane Aubier, Vincent Patar, Benjamin Renner
Penulis: Gabrielle Vincent (Buku), Daniel Pennac (Screenplay)

Apa yang terjadi ketika dua insan yang bertolak belakang berjalan beriringan?

Dengan latar belakang dari kedua belah dunia yang saling memiliki prasangka, film Ernest et Célestine bercerita tentang persahabatan dua makhluk yang berbeda. Satunya adalah seekor beruang dari 'Dunia Atas' dan satunya lagi adalah seekor tikus dari 'Dunia Bawah'.


Célestine adalah seekor tikus dari sebuah panti asuhan dimana penjaga panti mereka selalu bercerita tentang beruang jahat dari 'Dunia Atas', Célestine termasuk satu-satunya anak yang tidak percaya akan hal itu, ia percaya bahwa beruang dan tikus pun bisa bersahabat.


Di lain sisi, Ernest adalah seekor musisi beruang yang miskin, dengan mengandalkan alat musik dia berupaya untuk mengais rezeki untuk mengisi perutnya yang kelaparan tapi ternyata perlakuan dunia kurang ramah padanya, tidak ada satu pun yang memberi dan alat musiknya pun disita oleh polisi.


Ernest masih harus mencari-cari apa yang bisa dimakan. Lalu, siapa sangka pertemuannya dengan Célestine yang terjebak di tempat sampah mulai mengubah dunia mereka berdua. Bagaimana dengan kelanjutan kisahnya?

See it for yourself ;)

*** Pembahasan ***

Skor: 8.0

Film ini terlihat sederhana tapi ketika kita coba untuk renungkan ternyata sangat dalam maknanya.Secara tidak langsung film ini menggambarkan tentang fenomena sosial yang terkandung di dalamnya:


1. Gambaran anak yang dituntut agar menjadi sosok seperti orang tua / komunitas inginkan menjadi. Hal ini dapat dijelaskan dari sosok anak beruang yang dituntut orang tuanya supaya bisa mewariskan usaha mereka kelak, ketika anak-anak beruang lain boleh makan makanan manis, sang anak beruang dilarang dikarenakan harus menjaga kesehatan giginya agar bisa mewariskan usaha ayahnya yang menjual kue dan ibunya yang menjual gigi dan Célestine yang dituntut menjadi dokter gigi, lalu Ernest yang semenjak kecil dituntut menjadi Jaksa padahal dia lebih suka hal yang berhubungan dengan seni, bermain musik dan bercerita.

2. Cerminan akan tingkah laku orang-orang tentang realitas kehidupan terutama dalam situasi lingkungan pekerjaan, beberapa memang ada yang demikian tapi tidak semuanya.


Aku suka akan dinamika karakter yang ada dalam film ini. Seperti sosok Ernest yang awalnya cuek, egois dan tidak pedulian mulai belajar untuk berbagi setelah ia bertemu dengan Célestine. Kehadiran Célestine dalam kehidupan Ernest membukakan pandangan pada kita bahwa di balik sosok luar seseorang belum tentu sama seperti yang ada di dalam dirinya.

Ernest adalah salah satu contohnya, di balik sosoknya yang keras ternyata dia seekor beruang yang lembut dan penyayang ketika kita mengenal dirinya lebih dekat. Berada pada situasi yang sama, bahkan individu yang berbeda pun bisa belajar untuk memahami satu sama lain.

Film ini merupakan suatu contoh gambaran yang indah bila kita mengenal pribadi seseorang itu secara langsung dan bukan sekedar dari katanya. Karena belum tentu apa yang orang katakan itu sesuai dengan kenyataannya, bukan? Begitu pula ketika kita dihadapkan dengan stereotype yang ada, belum tentu semuanya seperti itu. Dan film ini juga mengajak agar kita menjadi diri kita sendiri.

Selain itu gambarnya pun apik, seperti melihat gambaran buku cerita. Oh, ya film ini memang diadaptasikan dari buku cerita. Aku juga suka dengan lagu dan sisipan musik disana terutama ketika Ernest sedang bermain piano, sayang permainan yang halus itu ada di soundtrack-nya.

Ah, ya alasan mengapa film ini diberi rating Bimbingan Orang tua, itu karena ada adegan tertentu yang memang tidak pantas ditiru. Jadi beberapa adegan yang ada di film ini memang tidak dibenarkan.
Bahas Bahas Film #02 – Optatissimus – Doa Pertama
Tahun: 2013
Bahasa: Indonesia
Genre: Drama
Durasi: 108 Menit
Rating: Remaja

(Cerita yang kompleks soalnya berat dan dalam haha. Ada satu adegan berdarah-darah, agak nyeremin memang. Perilaku dan tokoh utama yang nggak sopan.)



Sutradara: Dirmawan Hatta
Penulis: Dirmawan Hatta
Produser: Heru Winanto
Pemain: Rio Dewanto, Nadhira Suryadhi dan Landung Simatupang

Note: 

Film ini berat, buat yang males mikir (ngebosenin) tidak dianjurkan untuk menonton apalagi yang nggak punya hati yang luas, memiliki open mind sangat diperlukan untuk stay neutral. Film ini mengangkat tiga kisah. Satu kisah tentang seorang mantan pembunuh, kisah orang dengan gangguan jiwa dan tokoh utama itu sendiri. 

Jadi, bagi yang tidak merasakan langsung (baik sebagai keluarga maupun penderita) tidak akan dan begitu paham dan mengerti, apalagi appreciate. Bagi yang punya pengalaman dipasung, tidak dianjurkan untuk menonton. 

Terinspirasi dari sebuah kisah nyata. 

---

“Selama ini aku diam dan mengabaikannya… Sampai suatu peristiwa yang menceritakannya…”

Kisah ini dimulai tentang seorang pemuda bernama Andreas. Sekilas Andreas adalah seorang pemuda biasa yang terlihat agak serampangan dan nggak sopan. Tapi siapa tahu di balik sosok itu dia punya sebuah kisah kelam?

“Kamu punya beban yang kamu sembunyikan…”
“Semakin keras kamu merahasiakannya, semakin aku bisa mendengarmu, Andreas…”
“Aku tahu rahasiamu bagaimana pun kamu merahasiakannya rapat-rapat…”
“Apa kamu nggak lelah?”

Sebuah kisah yang dia simpan sendiri yang dia tidak pernah ceritakan pada siapapun, sebuah beban yang dia tidak ingin orang lain tahu, sebuah kisah yang enggan dia ceritakan. Hal itulah yang membuat dia jadi seperti sekarang ini. 

“Kamu diberkati.”
“Tidak, aku terkutuk. Aku dihantui oleh hal yang tidak ada.”

Ada suatu hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan sekedar kata-kata semata, karena tidak ada seorang pun yang dapat mengerti, kecuali mereka yang mengalami atau yang pernah mengalami.

“Aku tahu Tuhan sedang mengujiku, aku tahu kalau kamu berusaha menebusnya, tapi semua sudah terlambat. Kalau kelak kamu sembuh dari semua ini, aku berjanji akan melayani-Nya. Aku memberkatimu, Andreas…” 

Suatu perjuangan orang terdekat ketika harus berhadapan dengan seseorang yang ‘berbeda’. 

“Hal yang terpenting tak terlihat oleh mata, Andreas. Hanya hati… Hanya hati yang dapat melihatnya.”

Ucapan seorang gadis misterius yang dikatakan padanya, seseorang yang pernah ditemuinya berkali-kali, sosoknya menyerupai seseorang yang bersamanya kini. Dia mengenal Andreas. Tapi dia tidak kenal gadis tersebut.

“Kamu akan sembuh, kamu akan sembuh, kamu gak GILA!”

Siapakah Andreas? Bagaimanakah kisahnya? Penasaran (atau nggak?)
Tonton aja filmnya di bioskop terdekat selagi masih tayang (atau nonton aja film lain, hihi).

---
Pembahasan:

Dalem (awas jatuh)
Lieur (botak deh)
Kompleks (mmm, pabaliut..)

Optatissimus berasal dari bahasa latin yang berarti most, very desired or pleasant. Dalam film ini aku rasa lebih mengacu kepada “sangat diinginkan”. Jadi bisa dibilang judul gak kerennya, Doa Pertama yang sangat diinginkan? Tapi Optatissimus itu sendiri merupakan bagian tertentu dalam sebuah reliji. Hmm…

Meskipun nggak banyak yang tahu (atau mungkin berminat), tapi film ini bermutu dan berkualitas lho. Aku suka dengan musik instrumental yang mengiringi film ini, benar-benar dalam, sejuk, hening dan cocok untuk refleksi diri. Musik tersebut membuat film ini terasa feel dan touch-nya. 

Film ini memiliki tema…

Keluarga

Ada suatu potongan kisah mengenai cerita seorang Kakak dan Adiknya. Setelah menonton film tersebut kadang kita baru bisa menyadari pentingnya seseorang setelah mereka tiada. Jadi, jangan sia-siakan kesempatanmu mengisi hari-harimu dengan iri hati, dengki apalagi benci. Karena, pada saat mereka tidak ada, barulah kita sadar bahwa kita sangat membutuhkan mereka. Penyesalan selalu ada di akhir cerita.

Cinta

Kisah Yunita sebagai istri yang tetap setia dan bertahan meskipun Andreas yang dikenalnya telah berubah. Ia tetap mencintai Andreas dan bersamanya tanpa adanya syarat.

Ada banyak pembelajaran yang kita bisa dapatkan dalam film ini.

Pentingnya menyadari tentang Stigma dan pengetahuan tentang Kesehatan Mental.
Orang awam, terutama mereka yang tinggal di desa masih belum tahu banyak tentang gangguan jiwa, mereka yang kerap kali melakukan cara yang tidak manusiawi dalam menangani mereka. 

Hal ini terjadi pada seorang penderita yang diangkat beramai-ramai dan dipasung, dikucilkan di sebuah tempat yang tidak terjangkau oleh orang banyak.

Begitu pula dengan perlakuan anak-anak yang diberikan pada orang yang pernah menderita, ejekan “Orang Gila” pun masih melekat pada sosok yang sudah sembuh secara 'sosial' dan bisa kembali beraktivitas.

1. Ironi tentang Realitas 

Tidak semua orang yang kelihatannya baik itu baik. Dalam kasus ini diceritakan sekilas salah satu alasan mengapa Andreas menutup hatinya rapat-rapat. Ayah Andreas adalah seorang sosok pemuka Agama, akan tetapi di balik sosok itu dia adalah seseorang yang tega melakukan penganiayaan terhadap sosok sang Ibu. Kejadian inilah yang membuat Andreas sangat membenci dan enggan menyebut namanya dan mulai menjauh dari sosok Tuhan.

Hal ini pun kerapkali terjadi dalam dunia nyata. Pernahkah kamu mendengar mengenai sosok intelektual yang terkenal ramah di suatu tempat tapi melakukan suatu hal yang keji di luar itu? Semua orang pun tidak akan pernah menyangka.

Tapi, kita pun harus sadar bahwa semua itu terjadi karena ada suatu alasan di balik semua itu. 

2. Kesempatan Kedua

Tahukah kamu bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua? Bahkan seorang mantan pembunuh pun berhak memperoleh hidup baru. Itulah yang diajarkan oleh dalam film ini. Tuhan saja maha pengasih tapi kenapa kita sebagai manusia kadang tidak memberikan kesempatan itu? Mari pikirkan kembali.

3. Uang vs Cinta?

Ehm. Klise.

4. Pentingnya Tuhan dalam hidup kita

Apapun keyakinan kita, sosok Tuhan itu penting dalam hidup kita. Uang juga bukan segalanya. Selalu luangkanlah waktumu untuk beribadah.

5. Janganlah menyetir bila keadaan kacau balau

Lucu memang, tapi kalau ngerasa dan sadar kondisi aneh mendingan stop dulu deh. Daripada ada adegan tabrakan seperti di film. Andreas tetap ngotot berkendara sambil mencari sumber suara-suara yang tidak ada itu, akibatnya dia jadi tidak fokus menyetir dan menabrak seseorang.

...dan hal lainnya jika ada yang mau menambahkan.

Pembahasan secara spiritual dan juga pembahasan secara psikologis. 

--- Secara Spiritual ---

Andreas adalah sosok jiwa hilang yang hendak diketemukan. Kisah masa lalu yang kelam membuatnya menutup rapat-rapat hatinya dan meragukan sosok keberadaan Tuhan. Sebenarnya masih ada banyak missing link disini yang tidak dijelaskan.

Sosok gadis yang ditemuinya selama ini adalah merupakan pertanda yang diberikan oleh-Nya kepadanya. Melalui kata yang khas.

“Aku mengenalmu” 

Andreas tidak mengenalnya, akan tetapi sosok gadis misterius ini telah mengenal Andreas sejak lama dan dia memberikan petunjuk dan menuntun Andreas saat dia kehilangan arah. Dan sosok gadis ini yang ditemuinya ini lah yang memberikan dampak perubahan pada sosok Andreas kelak. 

Terkadang Tuhan memberikan petunjuk melalui pertanda yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat, kadang seseorang baru bisa menemukan jalannya kembali setelah mengalami hal-hal yang luar biasa heran.

Itulah mengapa, pada akhirnya Andreas bisa memanjatkan doanya yang pertama. Sang jiwa yang hilang pun akhirnya menemukan Tuan-Nya kembali.

“Aku hanyalah seorang pemain tolol dalam panggung sandiwara yang tidak kumengerti. Tapi, aku bersyukur bisa mengambil kesempatanku karena aku bisa memanjatkan doaku yang pertama.”

--- Secara Psikologis ---

Kalau memang Andreas mengidap gangguan jiwa dan hal lainnya yang berhubungan…

1. Tahukah kamu bahwa…

Pikiran dapat berdampak besar pada keadaan fisik. Ada kalanya apa yang kita alami itu hanya sekedar pikiran semata. Oleh karena itu ada kalanya kita memang harus stay positive, tapi jangan terlalu over dan pastikan check dengan realita. 

“Kamu nggak lapar, kamu nggak haus, kamu gak lelah… Kamu cuma nyerah.”
“Darimana kamu tahu?”
“Aku mengenalmu.”

2. Halusinasi

“Bukan pikiranmu yang kacau, tapi jiwamu yang kacau.”

Meski tidak ditunjukkan secara visual tapi itu bisa ditangkap dan nampak dari pembicaraan yang ada dan kisah yang diceritakan dalam film ini. Ada bagian dimana Andreas bercerita tentang perumpamaan dirinya dan suara-suara lain yang terdengar dari dalam dirinya dan 

3. Erotomania

Suatu bentuk delusi/waham dimana orang yang dalam keadaan ini merasa dan percaya bahwa orang lain itu jatuh cinta padanya. Biasanya terjadi pada pasien dengan Skizofrenia, gangguan waham dan gangguan bipolar selama tahap psikosis.
Hal ini dapat dibuktikan pada suatu adegan dimana Andreas melamar seorang gadis untuk menikah dengannya yang bernama Yunita. Dia merasa dia telah mengenalnya sejak lama dan mengenalnya, tapi Yunita sendiri sama sekali tidak mengenalnya. 

Yunita berkata seperti ini: 

“Yang tidak dikenal membuat kita takut, kamu nggak mengenal aku. Bagaimana kita bisa saling memiliki?”

4. Kemungkinan-kemungkinan mengapa dia begini…

Apa yang terjadi pada masa lalu Andreas, sesuatu yang tidak diceritakan secara mendetail tersebut apalagi dengan adanya sebuah kejadian yang membuat dia makin stressful membuat dirinya yang seperti ini. Tapi aku sendiri masih belum yakin, apa ini permanen pada sosok Andreas atau memang sementara ini masih misteri. 

Tambahan

Kita tahu ada beragam jenis terapi, efektif atau tidak semua itu tergantung pada minat individu dan keteguhan menjalaninya. Misalnya ada terapi dengan menulis, terapi dengan melukis, terapi dengan musik. Berdoa juga bisa jadi suatu bentuk terapi.

---
Reviewer’s Score

7,8

Sebenarnya mau kasih nilai lebih, tapi aku rasa masih banyak yang miss dalam film ini. Meskipun dijelaskan sekilas tentang masa lalu Andreas, tapi masih banyak pertanyaan yang membuatku bertanya-tanya, bagaimana mungkin sosok Andreas bisa sampai mendapatkan “keadaan” itu?

Ada suatu rahasia yang masih belum terkuak dan itu tidak dijelaskan dalam film ini. Hal yang justru membuatku penasaran. Dibuka dengan suatu perumpamaan, menggunakan mitologi dari Yunani yang memberikan tanda tanya menggelitik yang punya rasa ingin tahu. Perumpamaan ini berkaitan dengan cerita inti. Begitu pula dengan filsafat yang ditanamkan dalam kisah ini. 

Film ini juga apik dengan pengambilan pemandangan yang luar biasa. Bagi yang suka dengan shot pemandangan indah di daerah pedesaan desa, film ini untukmu. 

Selain itu apik dengan kutipan-kutipan kata yang cocok untuk refleksi diri dan pembelajaran tentang nilai hidup. Termasuk dialog antara orang yang dipasung dan Andreas, meskipun dikatakan dalam bahasa jawa, singkat tapi maknanya dalam. Begitu pula dengan selipan nyanyian dalam bahasa jawa.

Alur penceritaan yang tidak biasa, sempat membuatku bertanya-tanya dan kebingungan, karena dimulai dengan mix antara masa kini dan flashback. Diharapkan untuk menyimak baik-baik tiap segmen atau kalian akan kebingungan tersendiri. Aku suka dengan perumpamaan cerita anak yang dikaitkan dengan sang tokoh utama itu sendiri. 

Sayang ada beberapa adegan yang suaranya entah kurang jelas, bagi orang tertentu yang mengucapkannya. Dan minimnya visualisasi apa yang dialami oleh Andreas itu adalah poin lainnya yang penting tapi miss dalam film ini. Bagiku lewat kata-kata sudahlah cukup, tapi bagi beberapa orang kata-kata semata tidaklah cukup.

Hal yang membuatku terkejut itu ternyata kisah ini terinspirasi dari kejadian yang pernah terjadi di masa lalu. Inti dari doa pertama ini true to the core, sisanya itu kreativitas penulis.

---
Facebook: https://www.facebook.com/optatissimus
Trailer: http://www.youtube.com/watch?v=OUVHCwbVrGM&feature=youtu.be

---
Personal Note
Sedihnya, sepanjang film berlangsung air mata nggak bisa berhenti menetes. Nangis terus sepanjang film. Mungkin, ada bagian dari diriku yang merasakan apa yang film itu sampaikan.

It’s a Blessing? It’s a Curse? It's up to you to decide! 


Bahas Bahas Film # 01 - Betty Bencong Slebor

Tahun: 1978 (jadul)
Bahasa: Indonesia 
Genre: Komedi
Durasi: Kurang lebih 1 jam 30 menit
Rating: Bimbingan Orang Tua, Remaja

(Terdapat beberapa kata-kata yang tidak pantas, kata-kata ambigu terutama buat yang pikiran ngeres, kekerasan meskipun cuma candaan, ada nudity dikit -- penampakan bujur, haha...)

Produser: Abdul Madjid
Sutradara: Benyamin S
Penulis: Benyamin S

Pemain: 
Benyamin Suaeb, Bokir, Aminah Cendrakasih, Nasir, Mansyur Syah dan Elvi Sukaesih

***

Betty namanya. 

Dia unik. 

Dia berbeda. 

Gendernya pun double mix.

Inti ceritanya simpel sih seputar Betty yang bekerja menjadi seorang pembantu di keluarga Bokir. Hari-hari sebagai pembantu ia jalani, Istri Bokir yang baik hati memberikan kebebasan pada Betty. Kebebasan itu dipakai Betty dan Nasir untuk berjoget di malam harinya. Semua berjalan lancar sampai pada akhirnya ada penggerebekan Satpol PP dan hidup Betty pun mulai berubah semenjak saat itu...

Gimana nasibnya Betty? Tonton aja filmnya.

Hint: 
Jangan sambil makan deh kalau udah sampai mencapai ending, hehe... 
Muntah muntah dah :)

--- 

Film ini genrenya komedi, tapi aku melihat ada beragam tema di sini:

Persahabatan

Kita bisa melihat hubungan antara Betty dan Nasir, awalnya mereka saling nggak suka. Tapi karena Betty yang tidak melaporkan Nasir dan malah menyalahkan kucing dan juga akal-akalan Nasir tentang kucing membuat Betty maupun Nasir tetap stay bekerja disana. Dari sanalah awal persahabatan mereka sampai akhirnya pun tetap bersama meskipun dipecat dan ngamen bareng sambil nyari kerjaan baru...

Cinta

Kita bisa melihat dua kisah cinta disini. Kisah cinta keluarga Bokir dan istrinya. Mengupas tuntas tentang kehidupan pernikahan yang bermasalah dan diambang kehancuran karena suaminya yang mata keranjang dan bagaimana istrinya tetap setia dan bertahan.

Dan kisah cinta Bokir yang bertepuk sebelah tangan pada Elvi Sukaesih. Untung ada Mansur yang membantu menggagalkan aksi bosnya itu. 

Hal yang diajarkan:

1. Pentingnya menyadari tentang Stigma. Gak kenal, maka gak sayang.

Seringkali kita melecehkan kaum mereka entah tanpa sengaja melalui candaan dan sebagainya, tapi di balik semua itu mereka juga hanya sekedar manusia. Mereka punya hati. Meskipun jalan yang ditempuh oleh mereka berbeda dengan kita.

Sering kali kita menghakimi mereka tanpa tahu apa alasan yang ada di balik semua itu. Seperti dalam kasus Betty, sebelumnya dia patah hati karena susah mencari pekerjaan sana sini, dia mencoba-coba sesuatu yang baru dan mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan pada akhirnya dia malah jadi keterusan. 

Betty just another poor soul to save :)

If you can't save them, at least please don't hurt them. 
If everything happen for a reason, there must be a better explanation.

2. Kesederhanaan

Meskipun Bokir dari keluarga kaya, ada suatu moment yang menurutnya dalam merayakan sesuatu itu tidak perlu mewah. Istrinya menambahkan "yang penting sederhana tapi hikmat."

Pada acara ulang tahun Elvi juga menampilkan kesederhanaan disesuaikan dengan pola hidup sederhana dengan tema mencari wajah Indonesia. Meskipun Elvi kelihatan kaya dalam film itu, tapi dia tidak berhura-hura. Malah dia pada suatu segmen memutuskan untuk menyanyi gratis untuk menghibur rakyat.

3. Waspada dengan Stereotype

Banyak stereotype yang aku temukan dalam film ini contohnya... 

- Bos-bos seperti Bokir udah pelit, serampangan, mata keranjang pula. 
- Orang-orang seperti Mansyur, licik, nggak jujur, kadang apapun dihalalkan untuk mendapatkan yang diinginkan... Seperti Mansyur yang nggak mempermasalahkan soal lagu jiplakan yang disebut sebelumnya. Begitu juga saat kado Bokir yang diberikan ke Elvi, dia mengaku bahwa itu hadiah dari dirinya (untuk memikat Elvi). 
- Beberapa artis katanya bisa 'dibeli' dengan uang.

...dan masih banyak lagi.

Dalam film ini kita jadi mengetahui tentang realita di luar sana. Dan usahakan untuk tetap melihat keadaan dengan pikiran terbuka, meskipun kebanyakan seperti itu tapi tidak semua seperti itu. 

4. Reality Checking

Penting untuk nggak asal main tuduh, seperti saat Betty dihadapkan dengan majikannya atas apa yang terjadi. Bokir langsung menuduh Betty, istri Bokir setidaknya menanyakan terlebih dahulu apakah itu memang perbuatannya Betty?

Dalam kehidupan real pun kadang kita menemukan hal serupa. Setidaknya buktikan dulu sebelum bertindak dengan hal yang kurang jelas. Jelas-jelas salah langkah akan membuat kita menyesal... 

Dalam kasusku, aku sering kali dihantui oleh pikiran negatif ketika sedang lelah, biasanya jadi mudah sensi kadang melihat sesuatu yang 'berbeda' membuatku berpikiran macam-macam. Oleh karena itu daripada hidup dengan perasaan itu aku memilih untuk menanyakan yang sebenarnya...

5. Beda Budaya, Beda Tatakrama

Saat ulang tahun Elvi, semua memberikan selamat padanya dan ada seorang pria yang memberikan selamat dan selanjutnya hendak memberikan kiss, Elvi langsung menepis dan mengatakan Verboden ya. Pria menjelaskan sambil minta maaf kalau dia biasa di Prancis. Elvi pun memaklumi sambil tertawa. 

6. Mencintai produk dalam negri

Saat istri Bokir menyarankan Betty untuk mengubah penampilannya dia akan seperti Elizabeth Taylor bintang film Hollywood, tapi Betty lebih memilih ingin menjadi seperti Rahayu Effendi. 

Lalu, dalam film ini menampilkan kebudayaan indonesia yang dimana film zaman sekarang sudah agak jarang menghadirkannya. Seperti alat musik, tarian tradisional dan orang-orang dengan pakaian yang merakyat.

7. Dunia ini bukan sekedar hitam putih

Simpel. Tokoh antagonis pun punya sisi lainnya yang bisa kita lihat. Mansyur terlihat seperti salah satunya, tapi sebenarnya tujuannya itu untuk tetap mempertahankan pernikahan Bokir dan istrinya itu. 

...dan lain lain kalau ada yang mau nambahin. 

---

Nilai moral:
- Jangan main hakim sendiri, jangan main kekerasan! Negara kita ini negara hukum. Itulah yang istri Bokir katakan ketika Betty hendak menghunjamkan pisau ke Nasir.
- Kalau dibilangin jangan ngeyel. Ini lebih ke hukum sebab-akibat. Nasir udah memperingatkan Betty supaya nggak pulang malam, tapi Betty ngeyel. Karena Betty dan Nasir asyik joget mereka sampai lupa waktu pulang dan akhirnya nggak bisa masuk rumah karena pintunya dikunci. 
- Pendidikan itu penting, pengajaran agama juga penting. Biar kita jadi orang yang nggak berpikiran sempit dan punya hati sama orang. Cuma orang yang berpikiran sempit yang nggak menghargai perbedaan. Contohnya ada di segmen ketika Betty dikeroyok oleh anak-anak yang bermain bola sebelum diselamatkan oleh Pak Haji. 
- Jangan nilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Hargai mereka dan biarkan mereka menunjukkan kreatifitasnya sebelum menilai. Ini bisa dilihat di segmen Betty ketika dia hendak berduet dengan Elvi, orang-orang sudah menyuruh dia turun dari panggung dan mengata-ngatai dirinya.
- Ngaca dulu sebelum ngata-ngatain orang. Apa yang diucapkan udah sesuai dengan dirinya sendiri? Kadang kita begitu mudah melihat kekurangan/kesalahan yang ada di orang lain tapi nggak bisa melihat kekurangan di diri sendiri. Ada peribahasa "Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat."
- Inget umur, terutama yang udah uzur! Jaga kelakuan tuh, kita nggak tau kapan kita bakal di-calling, haha. 

Beberapa diantaranya terdapat kritik sosial yang ada pada zamannya itu. 

Ada 5 lagu yang diselipkan dalam film ini.

Lagu Ulang Tahun (ramai-ramai)
Lagu Ulang Tahun Elvi (Elvi)
Sawan Kam Hina (Elvi duet bareng Betty)
Goyang Pinggul (Elvi)
Lagu Ngamen (Nasir & Betty)

***

Reviewer's Score

8.0

Ah, ya. Film ini memang lawas... tapi jangan salah! Film ini nggak sekedar lucu-lucuan semata, film ini juga bukan film ecek ecek, karena isinya sangat berbobot. Kalau kalian ingin menonton film kocak dengan penuh ajaran, kritik sosial, nilai moral, drama musikal, merakyat dan tak terkesan menggurui, ini film untuk kalian.

P.S: Oh, ya please jangan bandingin film tahun 70-an dengan kualitas film zaman sekarang. Karena perlengkapan dan sebagainya juga masih sederhana, jadi kalau mau, coba liat deh sesuai dengan zamannya. 

***

Belum nonton videonya? Atau udah nonton tapi pengen nonton lagi? 
Nih ada linknya, tonton aja di Youtube langsung:

Video (Youtube)
Bagian 1: http://www.youtube.com/watch?v=eE6bT7JMbsE
Bagian 2: http://www.youtube.com/watch?v=PNfo5wGPBgc
Bagian 3: http://www.youtube.com/watch?v=2hD_k7nHitc
Bagian 4: http://www.youtube.com/watch?v=XHHgwyDnRh8
Bagian 5: http://www.youtube.com/watch?v=LaSQMfnUusE
Bagian 6: http://www.youtube.com/watch?v=QQK0-eZgpjg
Bagian 7: http://www.youtube.com/watch?v=-LtN6OLYMIc
Bagian 8: http://www.youtube.com/watch?v=57ocXNOPaA4
Bagian 9: http://www.youtube.com/watch?v=debXNZzGc9M
Bagian 10: http://www.youtube.com/watch?NR=1&v=-_0EyoFtu0E

***

Kalau nggak salah sih ada satu film lagi dimana Babeh Benyamin jadi bencong juga namanya agak lupa tapi kata orang rumah sih seputar ratu kecantikan gitu... Yang pernah hidup di masa itu ada yang tahu judulnya? Akan sangat membantu, karena bahasan film di kemudian hari mungkin adalah itu, hahaha....